![]() |
![]() |
![]() |
|
|
Home | Berita | Tentang Kami | Search |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
![]() Product Categories |
PROYEK PENGEMBANGAN BUDI DAYA SINGKONG VARIETAS DARUL HIDAYAH SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN TARAP KEHIDUPAN EKONOMI PETANI,SEKALIGUS MENGINTIP PELUANG PENGEMBANGAN BAHAN Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Wr.Wb. Pengembangan prakarsa kemandirian harus didorong dengan cara mengembangkan berbagai potensi masyarakat, memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki dan mengoptimalkan hasil – hasil dari prakarsa dan pemanfaatan tersebut, sehingga berbagai upaya dimaksud harus berujung dan bertumpu kepada kesejahteraan rakyat, dan kemakmuran daerah yang bersangkutan, berdasarkan sendi – sendi keadilan dan pemerataaan. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengembangan sector AGROBISNIS, yang memang sudah merupakan ciri utama dan mayoritas kehidupan masyarakat di negara kita, dimana sebagian besar penduduknya bertempat tinggal dipedesaan, dengan hidup mengandalkan dari sector pertanian. Berdasarkan Program Menteri Pertanian dengan keputusan Menteri Pertanian Nomor : 867/kpts/TP.240/11/98 tertanggal 4 Nopember 1998 di Jakarta perihal PELEPASAN UBI KAYU LOKAL DARUL HIDAYAH SEBAGAI VARIETAS UNGGUL DENGAN NAMA DARUL HIDAYAH Hanya saja berbagai upaya yang telah dilakukan baik itu oleh pemerintah maupun berbagai kelompok lain dalam memberdayakan sektor Pertanian selalu terbentur pada persoalan pokok, yaitu harga jual yang selalu rendah pada saat terjadi panen, produktifitas satuan lahan yang kecil, dan persoalan pemasaran. Untuk mewujudkan harapan dan tujuan tersebut, kami BIGCASSAVA.COM atau SINGKONGRAKSASA.COM telah memulai rintisan sejak lima tahun yang lalu, dengan mencoba mengembangkan budi daya singkong Darul Hidayah ( Singkong Raksasa ), yang merupakan bibit unggul dari singkong – singkong yang ada saat ini, dan telah terbiasa dibudidayakan oleh petani secara konvensional. Pengembangan singkong Darul Hidayah adalah merupakan jawaban dari persoalan dan rendahnya produktivitas persatuan lahan, dimana untuk jenis singkong konvensional biasanyan hanya dihasilkan sebesar 40 – 50 ton/ha lahan tanaman bahkan terkadang hanya mencapai 20 – 25 ton /ha lahan tanam. Sedangkan singkong Darul Hidayah setelah melalui uji tanam atau Pilot Project I diketahui dapat menghasilkan singkong sebagai hasil tanaman sebesar 100 – 150 ton/ha lahan tanam. Bahkan sejak bulan April 2006 sampai dengan September tidak turun hujan ( kemarau ) singkong Darul Hidayah tetap berkembang panjang umbinya mencapai satu meter per batang ubi kayu , Bahkan tidak sedikit jenis singkong Konvensional yang mati daun dan batang sehingga gagal panen. Selain itu BIGCASSAVA.COM memilih komoditas singkong sebagai garapan utamanya didasarkan pada hasil survey dan analisa market, bahwa kebutuhan berbagai jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai singkong sebagai bahan bakunya sangat besar, seperti industri makanan, industri farmasi, industri kimia, industri bahan bangungan, industri kertas, Industri BIOFUEL. Akibatnya beragamnya jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan Hal lain yang sangat penting dari budi daya singkong ini cenderung dapat ditanam pada jenis tanah apapun di satu sisi sedangkan pada sisi lain dapat mengoptimalkan lahan – lahan yang belum maksimal produksi, sehingga apabila kegiatan – kegiatan tersebut tumbuh kembangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakatnya, akan diperoleh beberapa keuntungan yaitu : Kegiatan pengembangan Budi daya Singkong dengan cara optimalisasi lahan – lahan yang belum dan dalam rangka membangun agro bisnis dan agro industri yang terintegrasi, sangat sejalan dengan PERDA Propinsi Jawa Barat No. 1 tahun 2001 Tentang rencana Strategi Propinsi Jawa barat tahun 2001 – 2005, dimana didalamnya memuat aspek pemanfaatan lahan tidur secara optimal guna meningkatkan prouktivitas pertanian. B. PELUANG PASAR, KESEMPATAN KERJA & LUAS AREAL TANAMAN SINGKONG Sebagaimana diuaraikan di atas peluang pengembangan usaha budi daya singkong sangat terbuka, hal ini tidak lain karena kebutuhan produk dan beragamnya produk olahan dari bahan dasar singkong seperti Gaplek, Chips, Pellet, tepung, dengan pangsa pasar untuk dalam negeri seperti industri makanan & minuman ( kerupuk, Sirup), industri textile, industri bahan bangunan ( Gips & Keramik ), Industri kertas, industri pakan ternak, sedagkan untuk pangsa pasar luar negeri dengan tujuan eksport adalah Negara Masyarakat Ekonomi Eropa, Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Jerman, dengan pemanfaatan untuk bahan baku farmasi, bahan baku industri lem, bahan baku industri kertas, dan bahan baku industri pakan ternak. Potensi Singkong UNIDO (UN Industrial Development Organization) atau Badan PBB di bidang Pembangunan Industri sudah sejak awal tahun 1980-an menerbitkan beberapa laporan tentang potensi singkong atau ubi kayu atau sampeu atau manioc, terutama di negara berkembang seperti di Indonesia yang memiliki lahan luas dan memungkinkan, karena permintaan pasar produk singkong tersebut dalam bentuk gaplek, tepung gaplek, dan terutama tepung tapioka, sangat tinggi. Dari data UNIDO sejak tahun 1982, Pada umumnya, di Indonesia masih jarang budidaya singkong berbentuk perkebunan dengan luas di atas lima hektar, karena umumnya masih merupakan kebun sela atau tumpang sari setelah penanaman padi huma, kebun hortikultura, ataupun hanya merupakan kebun sambilan, yang lebih banyak ditujukan untuk panenan daun/pucuknya yang dapat dijual untuk lalap, urab, ataupun makanan lainnya. Sedang dari ubinya, merasa sudah cukup hanya menjadi makanan panganan, baik dalam bentuk keripik, goreng singkong, rebus singkong, urab singkong, ketimus, opak, sampai ke bubuy singkong. Kadang-kadang dapat pula ditingkatkan menjadi makanan yang lebih "bergengsi" kalau menjadi "misro" (atau amis di jero/di dalam) atau "comro" (oncom di jero), dan sebagainya. Ekspor singkong Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubi singkong yang dikeringkan), tepung gaplek, ataupun tepung tapioka cukup meyakinkan dan dapat bersaing, seperti gaplek Indonesia yang sangat terkenal di mancanegara, terutama di Masyarakat Eropa (ME) sehingga harganya mampu bersaing dengan produk sejenis dari beberapa negara di Afrika, juga dari India dan Thailand, yaitu rata-rata dengan harga 65-75 dollar AS/ton, kemudian meningkat sampai 130 dollar AS/ ton, padahal produk yang sama dari India, Thailand, dan apalagi dari negara-negara di Afrika, hanya mencapai 60 dollar AS/ ton dan tidak lebih dari 80 dollar AS/ton. Akan tetapi, berbeda dengan produk tapioka, yang semula Indonesia dikenal sebagai penghasil tepung tapioka terbaik kualitasnya, bahkan mendekati kualitas pharmaceutical grade atau produk bahan baku untuk keperluan farmasi, tetapi tiba-tiba pada tahun 1980-an jatuh menjadi kualitas terendah, kalah oleh produk sejenis dari negara-negara Afrika, apalagi dari India dan Thailand. Masalahnya adalah, bahwa di dalam tepung tapioka hasil Memang budidaya singkong, pada umumnya di Saat produk tapioka Indonesia jatuh dan terpuruk, maka kalau mau dijadikan komoditas ekspor, khususnya ke Eropa, harus dijual dulu melalui Singapura, karena di negara tersebut tapioka kita yang sudah tercemar residu pestisida akan "dicuci" terlebih dahulu hingga memenuhi syarat, kemudian baru diekspor ke beberapa negara di Eropa dengan nama "Made in Singapore", padahal, kelakar banyak pakar pertanian, di Singapura tersebut jangankan ada kebun singkong, mencari untuk obat saja sudah susah, dan baru ada di Malaysia. Tahun 1980-an, ekspor produk singkong Makin menurunnya jumlah ekspor gaplek, karena penurunan produk singkong Petani, bukan saja disebabkan karena keterbatasan lahan untuk budidaya singkong yang menyebabkan mereka tidak tertarik, tetapi juga karena pemasaran yang bertahap, sehingga dari petani bernilai antara Rp 36 - Rp 50/kg segar, dan para pengumpul menerima sekitar Rp 75-Rp 100/kg segar. Dulu ketika di hampir tiap daerah/desa banyak bermunculan pabrik pengolah singkong menjadi tapioka, hasil jerih payah mereka banyak membantu pendapatan. Bahwa bertani singkong menguntungkan, banyak dialami petani di beberapa daerah di Jawa Barat, mulai dari Kabupaten Purwakarta, Subang, Sumedang, Tasik, Ciamis, Garut, sampai sukabumi dan Cianjur. Mereka menanam singkong bukan sekadar sambilan, tetapi sudah dikhususkan pada lahan yang sudah ada, dengan luas antara 1-4 ha, umumnya terletak di lereng pegunungan, berbatasan dengan lahan Kehutanan/Perhutani. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, dan tidak memerlukan penggarapan seperti halnya untuk tanaman hortikultura lainnya, misal sayuran. Juga selama penanaman, tidak perlu pemupukan dan pemberantasan Ternyata hasil tiap panen (antara 5-6 bulan setelah penanaman) dari luas 1 ha akan dapat diraih keuntungan sekitar Rp 2.500.000, yaitu dari hasil penjualan umbinya (4-6 ton) serta pucuk daunnya. Yang perlu diketahui, bahwa selama budidaya tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan, misal menyiangi gulma ( Sekarang, seperti yang dilakukan oleh para pengusaha singkong di daerah Lampung, Sulawesi Selatan, serta daerah lainnya, di samping lahan yang digunakan dapat lebih dari 500 ha/kebun, bahkan ada yang mencapai ribuan ha, juga bibit singkong umumnya merupakan bibit unggul seperti Manggi (berasal dari Brasil) dengan hasil rata-rata 16 ton/ha, Valenca (berasal dari Brasil) dengan hasil rata-rata 20 ton/ha, Basiorao (berasal dari Brasil) dengan hasil rata-rata 30 ton/ ha, Muara (berasal dari Bogor) dengan hasil rata-rata 30 ton/ ha, Bogor (asal dari Bogor) dengan hasil rata-rata 40 ton/ha. Bahkan, sekarang ada pula jenis unggul dan genjah (cepat dipanen), seperti Malang-1, dengan produksi antara 45-59 ton/ha atau rata-rata 37 ton, Malang-2, dengan produksi rata-rata antara 34 - 35 ton/ha. Semakin banyak petani berdasi yang saat ini mulai melirik budidaya singkong dengan luas tanam di atas 50 ha, terutama di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, karena permintaan produk, terutama dalam bentuk gaplek, tepung gaplek dan tepung tapioka, terus meningkat dengan tajam. Serta produk olahan singkong C. MENANAM BENSIN DIKEBUN SINGKONG [ ilmu & Teknologi, Gatra No:13 Beredar senin, 7 Februari 2006] MENTERI Riset Dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ternyata bisa juga jadi supir, Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung itu tanpa canggung duduk dibelakang setir Land Rover Discovery. Penumpangnya Direktur Jenderal Industri Kimia dan Direktur Jenderal Migas. Mobil kelas atas ini meluncur dari Gedung BPPT di jalan M. H. Thamrin menuju Monumen Nasional, lalu kejalan Jenderal Sudirman dan Memutar lagi di Jembatan semanggi balik lagi ke BPPT. Tak lama Kusmayanto jadi supir kamis terakhir dibulan Januari itu hanya memamerkan kinerja mobil berbahan bakar Singkong Tapi demo Kusmayanto belum berakhir”Saya akan Promosikan ke Istana Negara,”katanya . Namun sebelum beranjak ke Istana rupanya gayung sudah bersambut oleh Gubernur Sutiyoso. Ia akan menjajaki penggunaan “ Bensin Singkong “ itu untuk taksi di Bensin Singkong? Tepatnya bensin dioplos alcohol yang dibuat dari ubi kayu. Di dunia dikenal dengan sebutan gasohol atau gasoline-alkohol. Penelitian gasohol giat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada bensin yang diyakini bakal habis ditambang. Salah satunya alternatifnya mencampurkan etanol kedalam bensin. Etanol mengandung 35 % oksigen, sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran. Juga menaikkan Oktan, seperti zat aditif ( methyl tertiary buthyl ether – MTBE) dan tetra ethyl lead (TEL) yang umum dipakai berbeda dengan TEL, Etanol bisa terurai sehingga mengurangi emisi gas buang berbahaya. Tak mengherankan pemakain Etanol di dunia makin dan makin Besar, Produksi etanol dunia untuk bahan bakar diduga bakal meningkat dari 19 Milyar liter ( 2001) menjadi 31 Milyar liter ( estimasi 2006). Beberapa Negara di Brasil, Amerika Serikat, Kanada. Uni Eropa dan Di Indonesia sendiri gasohol bukan barang baru, di Lampung, gasohol sudah bertahun – tahun mengisi tangki mobil dan motor para pegawai Bali Besar. Tapi tak pernah dilirik pejabat Sumber Bioetanol memang tak Cuma singkong, bisa juga tebu,sagu,jagung,gandum,bahkan limbah pertanian seperti jerami. Di Amerika yang banyak dipakai sebagai sumber pati adalah jagung,tapi Agus yakin bahan bakar Bakar alternative dari singkongnya mampu bersaing di pasar. Teknologi kami makin efisien. Ongkos Produksi lebih murah dari minyak tanpa subsidi, “ katanya untuk skala kecil, kapasitas 60.000 liter per hari biaya produksinya Rp. 2.400, lebih rendah dibandingkan dengan bensin yang berkisar Rp. 2.600. Menurut Agus, Gasohol juga bisa mensejahterakan Petani. Contoh tahun 2004, konsumsi bensin 15 Juta Kilo liter. Jika 20 %nya diganti gasohol BE-10, berarti menghemat 3 juta kiloliter bensin. Setiap liter alcohol. Dihasilkan dari 6,5 Kilogram Singkong artinya butuh 2 juta ton singkong dari lahan 100.000 hektare. Apabila menggunakan singkong Varietas unggul Darul Hidayah hanya memerlukan lahan seluas 13.500 Ha. Dengan menanam singkong Varietas unggul dapat mengefisiensi : Sedangkan untuk kebutuhan tersebut utnuk memenuhi pasokan kebutuhan lokal saja BIGCASSAVA.COM hanya mengambil 30 % dari kebutuhan yang ada atau sekitar 100 ton singkong segar/hari. Apabila target 100 ton singkong segar / hari diolah dalam bentuk chips singkong sebagai bahan ½ jadi, maka bila 50% dari 100 ton diolah dengan cara padat karya, berdasarkan pengalamn Pilot Project I per orang setiap harinya mampu menghasilkan Chip singkong segar sebanyak 300 Kg, artinya apabila setiap harinya dilakukan produksi chip sebesar 50 Ton atau 50.000 kg berarti menyerap tenaga kerja sebanyak 167 orang pekerja/hari, dengan upah chips sebesar Rp. 6.000/100. Dengan demikian seorang tenaga kerja chips yang bekerja dari jam 07.00 pagi s/d 13.00 siang akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 18.000/orang/hari. Untuk mendukung Program pengembangan budi daya tanaman singkong Darul Hidayah di Kabupaten Subang sehingga dapat terlaksana sebagaimana yang direncanakan, maka diperlukan suatu upaya yang terintegrasi dan Sinergis antara Kopersai, Petani, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi maupun Pemerintah Pusat, agar dapat tujuan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat petani dapat tercapai. Salah satu upaya yang harus dilaksanakan adalah dengan cara memanfaatkan lahan – lahan tidur baik yang dikuasai Pemda maupun dinas Perkebunan juga Dinas Kehutanan. Dimana berdasarkan hasil survey dan pertemuan dengan beberapa instansi terdapat ribuan Ha lahan yang menganggur tidak dimanfaatkan secara optimal. Untuk pupuk kandang BIGCASSAVA.COM telah bekerjasama dengan Koperasi Susu Perah Gunung Gede Sukabumi& Peternak Ayam potong di Warung Kiara Kabupaten Sukabumi Pemasaran singkong (segar, Gaplek, tepung ) diperuntukan : 1.Pakan Ternak Sapi Perah , yang sangat tinggi akan karbohidrat yang dapat membantu menambah produksi susu. 2. Eksportir Gaplek Tepung untuk MEE & Asia khususnya China 3. Pabrik Tapioka 4. Pabrik Etanol
|
|
|
|
© Copyright 2006. |
|